Tanjung Luka - Benny Arnas


Judul buku: Tanjung Luka
Penulis: Benny Arnas
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
ISBN13: 9786020318943
Jumlah halaman: 298


Aku menemukan buku ini secara random ketika scrolling iJak, sebuah aplikasi perpustakaan Jakarta. Mungkin karena sampulnya yang menarik, aku mencoba membaca. Surprisingly, aku larut dalam novel ini. Entah kenapa waktu itu aku sempat terhenti di bagian awal buku ini, kemudian tak bisa menemukan buku ini lagi di aplikasi iJak. 

Beberapa waktu berlalu, kemarin mencoba mencari buku ini di aplikasi Gramedia Digital dan ternyata ada. Aku kembali membaca buku ini dan aku masih terlarut. Butuh 3 hari untukku menyelesaikan novel ini. Sehari mungkin bisa, tapi kan ada pekerjaan lain yang harus dilakukan, kan?

Novel berlatar Melayu ini berkisah tentang perjalanan pencarian kebenaran di balik suatu peristiwa. Terasa sangat menarik. Cara penulis membuat alur, memaparkan isi cerita, bagiku keren banget. Novel ini tak henti membuatku bertanya-tanya bagaimana kelanjutannya, apa sih yang sebenarnya terjadi, dll. Kind of book i like. Memancing rasa penasaran, bikin nggak bosan. Ini novel Benny Arnas pertama yang aku baca dan membuatku jatuh hati dengan tulisan-tulisannya. Unik.

Dalam buku ini, ada banyak hal-hal disampaikan secara tersirat. Tentang kasih sayang seorang Ibu, bahwa Ibu mampu melakukan banyak hal demi anaknya. Tentang keluarga, perjuangan, kehidupan. 
"Bagaimanapun cinta seorang anak kepada Ibu takkan Luruh oleh waktu dan kesalahan apapun begitu pula sebaliknya."
Ini memang bukan seperti novel remaja yang ringan untuk dibaca, tapi novel ini recommended  banget untuk dibaca. Banyak hal-hal mengejutkan yang muncul dalam cerita. Pun, kau pasti akan terkejut dengan apa endingnya. Sama sekali unpredictable. 

Ada beberapa hal yang juga aku dapat dari novel ini:
"Kehidupan tidak pernah bersahabat dengan siapapun yang berpangku tangan."

Siapa yang tidak setuju dengan kalimat itu? Memang dalam hidup ini, jika ingin bisa sukses, kita tidak boleh berpangku tangan saja.

"Di sisi lain, ia juga merasa Tuhan sedang menunjukinya kenyataan yang harus diperjuangkan, bahwa kehidupan bukan perkara keras tidaknya sebuah pekerjaan, melainkan tentang mau tidaknya berusaha."

"Ketakharmonisan dalam rumah tangga, bukan hanya mempengaruhi kejernihan berpikir anggota keluarga, tapi juga membuat setiap masalah melompat semaunya, mengaitkan diri pada masalah yang kadang tampak tak ada hubungannya."

"Kebenaran tidak (mesti) diperjuangkan dengan terburu-buru apalagi serampangan. Manusia memang sombong sehingga tidak ingin belajar pada waktu. Padahal waktu tidak pernah mengkhianati dirinya sendiri. Waktulah yang bisa memilih kapan saat yang paling mustajab untuk menyampaikan sebuah rahasia. Waktu selalu tepat waktu."

Pada akhir novel, ada sebuah kalimat penutup yang terasa seperti sebuah pukulan yang mengingatkan, bahwasanya jangan sampai apa-apa yang kita lakukan dalam hidup ini hanya sebuah kesia-siaan.

"Ia baru saja menyadari, selama ini telah menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, kedamaian serta ketenangan demi memperjuangkan sesuatu yang tidak semestinya diperjuangkan, yang tidak layak diperjuangkan. Dan ia tak lagi berani menyebutnya kutukan. Dalam hati, sekalipun."

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar